Sekilas kehidupan “NaDia”
“Dia” adalah sosok yang terlahir ditengah keterbatasan disekitarnya, meskipun kehidupannya serba minimalis, tapi ia punya semangat yang tinggi. Semua itu membentuk Dia mnjadi produk yang kuat dan tegar. Karna ia telah terbiasa dengan pengalaman hidup yang kurang menyenangkan. Masa kecilnya tak seperti anak-anak yang lain, terkadang ia merasa iri dengan anak yang lain yang memiliki orang tua lengkap dan sangat menyayangi mereka. Ia tak merasakan itu, Dia hanya punya seorang ibu yang setiap harinya berjuang untuk hidupnya. Dia selalu merasa sendiri, selalu diasingkan oleh teman-teman yang lain karena latar belakang yang kurang menyenangkan, suatu saat seperti terkucilkan jika teman-temannya asyik menceritakan sosok seorang ayah mereka masing-masing,sementara Dia tak mengenal itu. “Ayah..?? seperti apa ya rasanya disayangi oleh ayah?”. Dia hanya terdiam dan mengucapkannya dalam hati.
Ayah Dia telah lama pergi, sejak ia kecil tak lagi ada figur seorang ayah baginya. Ia tak mengenal kasih sayang itu. Hingga dewasa ia selalu mengagumi sosok yang paternalistik yang ia temukan dalam kesehariannya. Ibunya yang sabar selalu memberikan pengertian dan selalu berkata “Dia,,ibu adalah ayah juga buat Dia, jadi sekarang Dia punya ayah,, Dia pahamkan maksud ibu?” Dia hanya mengangguk yakin meskipun ia sering ditertawakan oleh teman-temannya karna kata-kata ibunya itu.tapi anak itu selalu tersenyum meskipun dicerca.
Seiring berjalannya waktu Dia kini memahami arti semua itu, arti kehidupan yang ia jalani, Dia tak seperti teman-temannya, kehidupannya monoton, ia selalu menutup diri, meskipun begitu dia sangat digemari oleh teman-temannya, karna dia tipe orang yang mudah mengenal seseorang dan selalu welcome dengan setiap orang yang interest padanya. Dia sangat suka membaca buku terutama tentang kisah-kisah kehidupan, dengan itu ia bisa mengambil hikmah dan belajar bagaimana mengambil sikap. Meskipun tidak banyak ia mengalami semua yang dialami oleh teman – temannya tapi mereka selalu datang mengadu padanya disetiap kesulitannya, Dia hanya memberikan solusi seperti yang ia dapat dari buku-buku yang dibacanya.dan itu membuat mereka nyaman, sehingga kadang mereka menganggap dia orang yang tegar seperti saran yang sering Dia katakan pada mereka, padahal Dia tak setegar itu. Dia hanya ingin selalu tampak menjadi seorang yang ceria meskipun terkadang rapuh juga.
Keseharian dia hanya disibukkan dengan aktivitas studynya selebihnya ia menghabiskan waktunya dirumah dengan aktivitas yang kadang-kadang ga jelas. Tapi itu dilaluinya hampir 12 tahun hingga masa sekolahnya berakhir. Dia hanya punya misi untuk bisa membahagiakan ibunya, dengan keterbatasan dan keterhimpitan kondisi, ia selalu yakin bahwa ia bisa, Dia selalu ingin mempersembahkan yang terbaik untuk ibu, itu dia usahakan sejak Dia masih SD. Minimal bisa memberikan nilai yang bagus. Hingga kini masih jelas dalam ingatannya ketika pertama kali Dia menerima rapor dia menangis tersedu-sedu karna hanya mendapatkan peringkat ke-4 di kelasnya. padahal sudah berusaha semaksimal mungkin, dan sang ibu hanya bisa tersenyum bahagia atas sikap anaknya.
Untuk selanjutnya Dia tidak ingin mengecewakan ibunya hingga Dia berhasil untuk itu, karna setiap harinya ia melihat betapa kerasnya kehidupan yang harus dijalani ibunya untuk Dia bisa duduk di bangku pendidikan. Keinginannya agar hasil yang bisa diberikan dapat sebanding dengan kerja keras ibunya. Dia ingin mnjadi seperti ibunya, sabar, tegar, penyayang dan selalu ikhlas dengan semua ketetapan-Nya meskipun itu menyakitkan. Dengan penampilan apa adanya ia tak pernah malu dengan pergaulan disekitarnya yang sedikit glamour, prinsipnya lebih mengutamakan kepribadian tanpa mengabaikan penampilan. Jika dibandingkan dengan teman-temannya ia sangat berbeda, seusianya mayoritas sibuk dengan urusan hati, cowok dan sejenisnya, Dia sangat cuek dengan hal itu,karna ia lebih suka diam-diam menyayangi seseorang karna ia merasa tak pernah pantas untuk itu semua. Mungkin ia memilih sadar diri, syapa dia, dan bagaimana latar belakang keluarganya. Dia hanya mampu diam, sejenak berpikir sampai kapan akan terus seperti ini.
Bahkan terkadang terbesit tanya dalam benaknya ”Kapan ini semua akan berakhir?“. Tapi tak juga terjawab. Karna ia tak seperti cinderela, meskipun cinderela memiliki keterbatasan tapi ia memiliki kecantikan yang luar biasa, sedangkan kehidupan ini ternyata lebih mempercayai apa yang bisa dilihat dengan mata dari pada apa yang bisa dirasakan oleh hati, dan Dia tak memiliki itu, Nadia hanya seorang gadis sederhana, minimalis, biasa dan apa adanya. bahkan untuk ukuran anak jaman sekarang ia sangat jauh dari kesempurnaan, meskipun begitu Nadia tetap ingin mempercantik kepribadiannya, meluarbiasakan diri semampunya karna ia yakin suatu saat nanti ia akan menemukan seseorang yang tidak dapat menerima dia karna melihat covernya tapi orang yang bisa menghargai dia karna kepribadiannya. Selama ini Dia merasa tertekan tumbuh dalam kekerasan, itu yang membuat dia sangat membenci setiap hal yang penuh dengan ego, yang ia inginkan dari setiap orang adalah kelembutan dan kasih sayang. Semua yang terjadi dalam hidupnya menempanya menjadi seseorang yang ingin berusaha selalu ikhlas atas setiap perlakuan orang terhadapnya, meskipun itu menyakitkan, ia akan lebih memilih untuk diam dan tersenyum.
Jauh baginya untuk berpikir akan ada orang yang dapat menerima kesederhanaannya, Nadia orang yang mudah kagum terhadap kebaikan dan kelebihan seseorang, tapi ia selalu ingin menjaga hati untuk tidak setiap saat mengijinkan siapapun bebas hadir dan menghilanng dalam kehidupannya. Baginya hidup bagaikan selembar kertas putih. Ketika kita terus-terusan melakukan kesalahan yang sama untuk menerima dan mengakhiri setiap komitmen dengan mereka yang meminta hati kita, itu hanya akan menjadi coretan-coretan tidak jelas dalam kertas bersih itu. Meskipun temannya selalu mengatakan Dia kuno dan ga ikuti perkembangan jaman, kata mereka justru suatu kebanggaan, bisa menjalin dan mengakhiri komitmen dengan berbagai macam karakter cowok yang dia inginkan. Tapi tidak bagi Nadia. Tetapi Nadia tetap selalu membuka setiap kesempatan dalam hidupnya untuk setiap mereka yang hadir dalam kehidupannya, terkadang Dia juga menikmati kedekatannya dengan siapapun yang menyambut baik Dia. Bahkan tak jarang ia memiliki rasa dengan seseorang, tapi akhirnya harus dilupakan karna memang bukan yang terbaik. Dia sama seperti mereka, yang bisa memiliki rasa karna terbiasa. Dia jalani itu, nikmati rasa itu semampunya meskipun terkadang hanya semu. Tapi cukup hanya mengingat setiap senyuman dari orang yang Dia sayang, Dia mampu menjadikan itu support dan kekuatan terbesar dalam hidup Dia.
Dia mengabaikan semua tentang rasa, ia hanya mampu menaruh harapan itu dalam hati dan mimpinya. Kini Dia ingin fokus pada misinya untuk bisa melanjutkan studynya, meskipun ia tahu ibu belum sanggup untuk itu, tapi Dia percaya bahwa jika ada kemauan apapun pasti bisa kita lakukan. Dia mendapatkan tawaran kerja menjadi seorang governes di suatu Kota besar, tapi ia masih terobsesi untuk melanjutkan studynya hingga perguruan tinggi bagaimanapun caranya.
Suatu ketika sebuah keluarga menawarkan angin segar baginya. Dia bisa melanjutkan studynya asalkan Dia mau tinggal bersama mereka. Tapi Dia sementara harus pergi tinggalkan ibu untuk melanjutkan studynya disebuah tempat yang tak pernah Dia kenal sebelumnya. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Dia menerima tawaran itu, Akhirnya Dia pergi menjalani hidupnya yang baru dengan keluarga yang baru. Kini Dia telah melanjutkan studynya sesuai dengan keinginnanya. Meskipun Dia menyadari ternyata Dia telah menukarkan kebebasannya demi masa depan, dan kehidupannya kini tak juga semanis yang ia bayangkan. Hanya bermodalkan ikhlas, sabar dan tegar ia jalani semuanya. Kini Nadia sendiri disini, tanpa ada ibu yang setiap saat menenangkannya. Seluruh aktivitas kini menyibukkannya, dengan waktu istirahat yang minim, dia selalu berkata dalam hati ”Jika ingin sukses kurangi waktu tidurmu untuk kerja kerasmu“. Tapi terkadang letih juga dengan kondisi seperti ini. Ketika subuh tiba, ia mulai aktivitasnya hingga ia melanjutkan dengan aktivitas pagi diluar, sepulang dari itu langsung prepare untuk berangkat kuliah, sepulang kuliah ia harus menyelesaikan semua tugas yang ada sampai larut malam, setiap hari ia jalani flat tanpa dinamika, semua konstan dan monoton. Terkadang masih saja niat baik dianggap salah. Hanya setetes dua tetes air mata kemudian terdiam yang bisa dilakukan. Tapi seketika tersenyum dan kembali semangat jika ingat dengan ibunya.
Sikap yang dingin disekitarnya mulai terbiasa baginya, setiap kata tak mau ia hiraukan, hanya Allah sebagai tumpuannya. Disini ia menemukan keunikan berbagai macam karakter seseorang. Memang sedikit berbeda, dulu Dia yang manja dengan ibunya, perlahan berubah menjadi Nadia yang mandiri dalam apapun, lebih sabar dan menerima setiap kata yang enak maupun tidak mengenakkan hati, semua ini karna keadaan, yang jelas bayangan untuk dapat berhasil dan dapat membahagiakan ibunya yang selalu mengukuhkan niatnya untuk tetap bertahan, setiap langkah kakinya meskipun ditertawakan orang karna keterbatasan dan keterhimpitannya, Dia tetap tersenyum karna ia selalu ingat senyuman ibu yang terus terlintas dalam benaknya.
Dia selalu ingin mengusahakan yang terbaik untuk studynya, hingga terkadang ketika berjalan menuju kampusnya Dia berpikir, untuk apa sebenarnya ini semua ia lakukan? Di kucilkan, hujan dan panas ia lalui sendirian, ditertawakan orang karna langkah kakinya ditengah jalanan kota besar. Tarnyata jawabnya hanya untuk membuat ibu tersenyum. Betapapun sulit kondisi yang ia jalani, ia tak ingin mengatakan pada siapapun.
Yang memberikan kenangan tak terlupakan bagi Dia, setiap Dia berjalan untuk pulang dari kampusnya, selalu ada orang yang menawarinya untuk ikut dengannya tanpa bayaran alias gratis. Tapi Dia tetap tidak menerima. Meskipun begitu orang itu tak lelah untuk menawarkan bantuannya pada Dia setiap harinya. Tapi Dia tetap ingin menjalani dan melakukan itu semampunya.
Sebenarnya Dia sangat memahami apa yang difikirkan setiap orang yang melihatnya berjalan hampir setiap hari ditengah kota besar yang mayoritas penduduknya menggunakan kendaraan bermotor, minimal mereka menggunakan jasa angkutan umum.mungkin ini kelihatan aneh bagi mereka. Tapi Nadia begitu cuek menanggapinya. Itu terjadi hingga 2 tahun ia menjalani studynya.
”Love u mom...just for my mom“. Dia percaya suatu saat nanti akan hadir kebahagiaan yang sebenarnya, asalkan kita mau berusaha.kini ia tetap ceria, tegar, semangat, ikhlas dan mudah memaafkan. Ikhtiar , berdoa dan tawakal adalah jalan satu-satunya untuk dapat meraih kesuksesan. Yang berlalu adalah jembatan menuju masa depan, maka jadikan itu sebagai cermin kehidupan. Dengan kesabaran yang Dia miliki dan ketegaran serta semangat itu, Kini Nadia mampu menyelesaikan studynya dan menemukan orang yang tepat dalam hidupnya, Nadia telah membuat ibu selalu tersenyum bangga. Nadia telah mencapai misinya, misi kehidupannya yang Dia perjuangkan dengan penuh cobaan. Roda kehidupan terus berputar, tak selamanya orang hina akan menjadi seperti itu asalkan ”Kita mau merubahnya“.
Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Dia, Jangan pernah menjadikan keterbatasan penghalang bagi kita untuk maju. Orang sukses tidak hanya dapat terlahir dengan segala sesuatu yang serba melimpah, tapi justru keterbatasan dapat menjadi motivasi bagi seseorang untuk bisa sukses. Setiap orang berhak memiliki mimpi ko’ so never give up ya...!!! jangan sampai masalah kehidupan membuat mempertanyakan keadilan Tuhan, apalagi membuat kita kemudian buta, tidak sanggup melihat keindahan di sisi kehidupan kita yang lain. Aka selalu ada penghapusan dibalik duka, syaratnya adalah keikhlasan dan keridhaan menerima petaka. Kesabaran akan membuat segala nikmat terlihat indah.